Ini Saya, Bukan Anda!

Mau menggalau nih….

Saya pingin balas dendam sama Anda. Jangan dikira Anda lebih tua dan lebih kaya dan lebih berkuasa, lalu Anda bisa seenak jidat ngatur saya, ya. Iya kalau kata-kata buat ngatur saya itu kata-kata juga Anda lakukan. Lha ini? Bohong, ah!

saya akan menghargai orang yang menghargai saya. Jadiii.. tolong yaa.. Kalau Anda ndak menghargai saya, jangan harap deh, saya juga menghargai Anda.

Saya ndak bohong lho ya. Beneran ndak bohong! Saya tetap mau bekerja pada Anda, tetapi tidak sebanyak dulu. Lha dulu ketika saya tanya Anda tentang ini, Anda bilang boleh dan bisa. Ya sudah, saya lanjut dengan kehidupan saya. Jadi jangan salahkan saya, yaaa ^^

Saya hidup di Jogja, sendriri. Anda pikir, dengan uang segitu, saya bisa hidup di sini? Plis deehhh… Kalau ada yg lebih baik, kenapa tidak?

Maaf… sorry…
I’m sorry goooodddbyeeeeee… *ala Krisdayanti setelah ditinggal Anang*

nb: no mention. cuma pengen nggalau :)

Dawet Jabung Ponorogo

dawet jabung

dawet jabung

Jangan lupa, kalau  ke Tulungagung lewat Ponorogo, mampir ke warung Dawet Jabung. Memang banyak warung dawet  di kota Reog itu, tetapiiiiii cuma satu yang menjadi langganan keluarga saya.

Soal lokasi, saya lupa nama jalannya sebab saya cuma ikut ke mana bapak pergi. Yang saya ingat adalah letakya dekat dari Pondok Gontor. Warungnya kecil, penjualnya mbak-mbak cantik, duduk di depan seperangkat kuali dawet dan diapit meja untuk  gorengan dan krupuk. Beberapa pembeli juga menikmati dawet di meja itu, tetapi beberapa yang lain lebih memilih menikmati dawet di meja belakang yang lebih lebar.

Soal rasa, ndak usah ditanya. Segaaaaaaaarrrrrrr dan manis. Haus dalam perjalanan dari Jogja-Ponorogo terhapus setelah meneguk dawet ini. Jadi jangan heran kalau gadis pemalu pun akan minta tambah alias tanduk dalam bahasa Jawa.

nb: Dawet tidak disajikan dalam gelas besar, tetapi mangkuk kecil.

Harganya murah pake banget.

Parkir gratis.

Previous Older Entries